Hari dari sekian hari yang paling indah dalam kehidupan gue
adalah ketika gue masih duduk di bangku sekolah madrasah uliyah Mansya'ul Falah Pecanggaan, Jepara. Di sekolah yang kondisinya jauh dari standar itu
gue, Aji, Ihda, Lia, Agus, Nauval dan Fatah belajar agama dan realita
kehidupan. Ditemani oleh guru-guru yang hebat, kami juga belajar kesederhanaan
walupun sebagian dari kami ada yang berasal dari keluarga kaya.
Saat itu kami menjadi saksi betapa rendahnya minat masyarakat
moderen dalam hal ilmu agama dan akhirat. Bayangkan saja untuk kelas satu di
sekolah tersebut hanya ada enam orang siswa yaitu gue, Aji, Lia, Ihda, Agus dan
Nauval. Sementara



